Selasa, 27 Agustus 2019

Happy Birthday Kenneth

Happy Birthday Kenneth....

Selamat ulang tahun yang ke -5 yang jatuh pada tanggal 25 Agustus 2019, untuk salah satu anak-anak tersayang kami, yaitu Kenneth.
Semoga semakin pintar, baik di sekolah, di rumah dan di day care, semakin menurut dengan orang tua, guru dan semuanya. Wish U All The Best....GBU....







Senin, 19 Agustus 2019

Field Trip Dadakan Ke Tandon Ciater

Halo semuanya...

Berjumpa lagi di blog dari Bilik Dolan...

Kali ini, kita mengadakan field trip dadakan ke tandon ciater bersama anak-anak yang kebetulan libur. Kalau libur, kami benar-benar memutar otak untuk mencari kesibukan bagi mereka yang pintar-pintar, aktif-aktif dan kritis-kritis ini. Kalau di day care saja, pasti mereka mengeluh bosan, jenuh, dan mencari kesibukan apa saja.
Akhirnya kami memutuskan untuk pergi dadakan ke tandon ciater saja. Selain dekat, dan faktor outdoornya yang seru, yang memutuskan kami untuk pergi kesana, selain faktor agar mereka tidak kurang piknik...:-)

Mereka bisa berolahraga, bermain dan beraktivitas disana...
Kami harapkan mereka bisa kompak selalu dan akrab selalu, karena mereka toh 1 sekolah semua yang libur ini...






Minggu, 11 Agustus 2019

7 Cara Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Anak

Penyakit flu dan batuk merupakan penyakit yang seringkali ‘menghantui’ anak-anak. Meskipun kini sudah terdapat vaksin influenza, namun nyatanya hal tersebut tetap tidak menjamin anak bisa terbebas dari penyakit tersebut, lho. Hal ini tentu saja membuat para orang tua harus pandai mencari cara dalam meningkatkan daya tahan tubuh atau sistem imun di dalam tubuh anak.
Sebelumnya kenalan dulu yuk, apa sih yang dimaksud dengan sistem imun? Menurut Charles Shubin, profesor pediatrik dari Universitas Maryland, Amerika Serikat, setiap anak lahir ke dunia dengan sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna. Perlahan, kemampuan imunitas tubuh dalam melawan kuman, virus, dan organisme jahat lain akan bertambah, terutama ketika anak sakit.
Normalnya anak-anak bisa sakit selama 8 kali dalam setahun. Penyebabnya bisa karena flu, batuk, atau infeksi telinga. Walau begitu, sebagai orang tua tentu kita tidak ingin membiarkan anak sakit hanya karena sedang dalam proses untuk meningkatkan kekebalan tubuhnya, kan?
Eits, jangan khawatir ya para orang tua, sistem imun atau daya tahan tubuh anak bisa ditingkatkan kok. Yuk, intip cara mudah meningkatkan daya tahan tubuh anak berikut ini ya.

7 Langkah Sederhana Untuk Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Anak


1. Ajak anak rutin berolahraga

Olahraga merupakan salah satu cara alami yang paling ampuh untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak. Olahraga juga bisa meningkatkan sel pembunuh kuman alami dalam tubuh, menguatkan otot jantung, serta memperkuat tulang dan otot tubuh. Sehingga secara otomatis tubuh menjadi lebih kuat menangkal serangan penyakit.
Olahraga yang dimaksud tidak perlu yang berat ya. Ajak mereka berolahraga ringan seperti berjalan kaki, bersepeda atau berenang. Jadikan olahraga sebagai kegiatan rutin yang harus dilakukan setiap hari, agar menjadi kebiasaan yang baik dan menyehatkan bagi anak.

2. Berikan ASI eksklusif

Memberikan ASI eksklusif merupakan cara terbaik untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak terutama pada bayi dan balita. Sebab, ASI mengandung komponen yang mampu meningkatkan antibodi dan sel darah putih. ASI eksklusif pada bayi baru lahir bisa mencegah infeksi telinga, alergi, meningkatkan kekuatan otak, mencegah diare, pneumonia, meningitis, dan sindrom kematian mendadak.
But, in fact ternyata tidak semua Ibu mampu memberikan ASI eksklusif pada anak-anak mereka karena berbagai kendala. Namun setidaknya, berikan ASI setidaknya selama 2-3 bulan usia Si Kecil, ya Bu. Setidaknya mereka sudah memiliki ‘tameng’ dalam tubuhnya untuk melawan penyakit yang datang nantinya.
But, then setelah melewati umur tersebut Ibu boleh kok, mengombinasikan ASI dengan susu formula

3. Rutin mengonsumsi buah dan sayur

Buah dan sayur sangat kaya akan manfaat, salah satunya adalah dapat menangkal serangan virus dan bakteri yang berbahaya dan otomatis dapat meningkatkan daya tahan tubuh anak. Sebaiknya pilih buah dan sayur yang banyak mengandung vitamin C. Sebab vitamin C terbukti dapat meningkatkan produksi sel darah putih yang melawan virus.
Paduan sayur dan buah sangat baik untuk kesehatan dan perkembangan tubuhnya. Beberapa sayur dan buah juga mengandung fitonutrien yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh anak. Terlebih zat fitronutrien terbukti dapat memperbanyak produksi sel darah putih dan interferon untuk melawan infeksi bakteri dan virus.
Tak cukup sampai di situ, rutin mengonsumsi buah dan sayur juga dapat melindungi anak dari penyakit kronis, seperti penyakit jantung dan kanker saat dewasa. Sajikan wortel, kacang hijau, jeruk, stroberi, dan brokoli pada menu makanannya. Untuk camilan, Ibu bisa siapkan yogurt, salad buah, atau kacang-kacangan.
Namun, pastikan bahwa porsi makanannya sesuai dengan usianya, ya Bu. Sebab terlalu banyak makan bisa membuat bayi rentan memiliki berat badan berlebih, yang jelas tidak baik bagi kesehatan tubuhnya kelak.

4. Rajin mencuci tangan

Secara garis besar, rajin mencuci tangan tidak secara teknis ada hubungannya dengan dapat meningkatkan daya tahan tubuh anak. Akan tetapi, ini merupakan cara yang sangat baik untuk mengurangi stress serta mencegah kerusakan pada sistem imun anak.
Ajari anak-anak mencuci tangan dengan sabun, baik sebelum maupun sesudah makan, setelah bermain di luar, setelah memegang hewan peliharaan serta setelah melakukan kegiatan lain yang memungkinkan mereka terkena bakteri.
Nah, mengingat setiap tempat yang mereka kunjungi tidak selalu terdapat fasilitas untuk mencuci tangan, Ibu bisa menyiasatinya dengan membawa hand sanitizer maupun tissue basah. Agar kebiasaan cuci tangan tetap bisa dilakukan meskipun sedang berada di luar rumah.
Tak hanya itu, menurut Barbara Rich, D.D., juru bicara Academy of General Dentistry, cara lain untuk meningkatkan daya tubuh anak adalah dengan mengganti sikat giginya ketika ia mulai sakit. Terutama ketika sakit flu, batuk atau yang berkaitan dengan penyakit tenggorokan.
Yup, seorang anak memang tidak dapat terkena virus flu yang sama sebanyak dua kali, tetapi virus tersebut dapat melompat dari sikat gigi ke sikat gigi serta menginfeksi anggota keluarga lainnya. Namun, jika itu adalah infeksi bakteri, seperti radang tenggorokan, anak justru dapat menginfeksi dirinya kembali dengan kuman yang sama sehingga membuatnya sakit. Dengan cara ini kita bisa sekaligus melindungi anak serta seluruh anggota keluarga lainnya dari serangan penyakit.

5. Usahakan agar anak tidur cukup

Tidak hanya orang dewasa, anak-anak yang kurang tidur juga akan lebih gampang tertular penyakit. Sebab, kurang tidur dapat mengurangi jumlah sel penangkal penyakit di dalam tubuh yang dalam jangka panjang dapat menyebabkan penyakit berbahaya seperti kanker. Wah, ngeri banget!
Lalu, sebenarnya berapa sih standar kebutuhan tidur yang diperlukan oleh anak-anak? Menurut peneliti Kathi Kemper, M.D. dari Pusat Pendidikan dan Penelitian Pediatrik Holistik di Boston, normalnya untuk bayi baru lahir saja, setidaknya mereka membutuhkan waktu tidur 18 jam sehari, balita perlu 12-13 jam, dan anak prasekolah perlu tidur 10 jam setiap hari. Hal ini penting diterapkan, agar anak dapat me-recharge energi dan membantu meningkatkan daya tahan tubuh anak.

6. Jauhkan mereka dari paparan asap rokok

Polusi kendaraan dan asap rokok sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh manusia, tak terkecuali anak-anak. Asap berbahaya ini dapat mengiritasi organ pernapasan anak, sehingga membuat mereka lebih rentan mendapatkan efek negatifnya, seperti bronkitis atau asma. Perlu diingat bahwa, sebatang rokok mengandung lebih dari 4.000 toksin yang bisa mengiritasi atau membunuh sel dalam tubuh. Nah, mulai sekarang apabila ada anggota keluarga di rumah yang merokok, sebaiknya beri pengertian agar aturan merokok hanya boleh dilakukan di luar rumah.
Jika terpaksa bepergian menggunakan kendaraan umum maupun kendaraan roda dua, ada baiknya proteksi diri anak dengan menggunakan masker, untuk mengurangi paparan polusi udara. Hal ini penting dilakukan guna meningkatkan daya tahan tubuh anak.

7. Usahakan untuk tidak terlalu sering mengonsumsi antibiotik

Hingga saat ini, ternyata masih banyak orang tua yang salah tanggap terhadap manfaat dari obat antibiotikYes, Ibu! Walaupun Si Kecil sering sakit-sakitan terutama flu dan batuk, tapi tak berarti mereka selalu membutuhkan obat antibiotik, lho!
Penting diingat bahwa, saat anak terserang flu, batuk dan diare tak lantas langsung membutuhkan obat antibiotik. Antibiotik sendiri sebenarnya merupakan obat yang digunakan khusus untuk membunuh bakteri.
Penyakit yang disebabkan oleh virus tidak bisa diobati dengan antibiotik. Karena itulah pemberian antibiotik sebaiknya harus benar-benar diperhatikan. Bila anak menderita penyakit yang tidak disebabkan oleh bakteri sebaiknya tidak perlu diberi obat tersebut.
Penggunaan antibiotik sembarangan justru akan memperburuk kondisi anak, seperti membunuh bakteri baik dalam tubuh, merusak organ-organ tubuh yang belum sempurna, serta membuat bakteri-bakteri bermutasi dan menjadi kebal terhadap antibiotik. Akibatnya obat antibiotik justru tidak ampuh lagi dalam membunuh bakteri.
Nggak hanya itu ya Bu, antibiotik juga bisa menimbulkan reaksi alergi pada beberapa anak.. Menurut penelitian dari Boston University of School Medicine kebanyakan infeksi yang diderita anak disebabkan oleh virus, bukan bakteri. So, alih alih ingin Si Kecil cepat sembuh tak melulu harus menggunakan antibiotik ya Bu.
Demam karena virus biasanya terjadi tiba-tiba dan cepat turun. Sementara demam yang disebabkan bakteri bisa bertahan berhari-hari. Sebaiknya berikan penurun panas saja bila suhu tubuh anak tinggi. Bila dalam dua hari panasnya tidak turun maka baru dipertimbangkan untuk diberi antibiotik.
Kondisinya berbeda bila penyakit yang diderita anak disebabkan oleh infeksi bakteri, seperti pneumoniaTBCmeningitistifus, radang tenggorokan akibat streptokokusinfeksi saluran kemih, dan lain-lain maka sebaiknya sebaiknya diberi antibiotik spektrum sempit, yakni antibiotik yang hanya bekerja membunuh bakteri tertentu.
Bila anak mendapat antibiotik, maka tepatilah aturan pakainya. Antibiotik harus diminum sampai habis untuk menghindari terjadinya resistensi bakteri.
Ya begitulah kurang lebih cara meningkatkan daya tahan tubuh dari anak-anak. Semoga anak-anak kita semua diberikan kesehatan yah....

Senin, 05 Agustus 2019

Trampolin, Olahraga Sehat dan Mengasyikkan Bagi Anak

Akhir-akhir ini lagi ngetrend permainan Trampolin untuk anak-anak dan bahkan orang dewasa juga menyukainya. Sebenarnya bermanfaat gak sih ? Berikut di bawah ini penjelasannya...
Trampolin adalah salah satu permainan yang disukai oleh siapa saja, baik itu orang dewasa atau anak-anak. Saat bermain trampolin, kita bisa melompat-lompat dengan perasaan yang girang hingga berkeringat. Namun, tahukah anda jika pakar kesehatan ternyata sangat merekomendasikan permainan ini sebagai aktifitas fisik anak-anak yang menyehatkan? Berikut adalah manfaat berolahraga trampolin bagi anak.
Pakar kesehatan dan olahraga dr. Grace Tumbeleka, SpKO, menyebutkan jika anak yang suka bermain trampolin akan cenderung memiliki otot-otot yang lebih kuat dan mendapatkan tumbuh kembang yang cukup baik. Selain itu, anak-anak akan memiliki tungkai bawah yang lebih kuat dan mereka pun akan membakar kalori yang lebih banyak. Alhasil, anak juga akan terhindar dari masalah berat badan yang berlebihan yang bisa memicu beberapa penyakit berbahaya.
Yang membuat pakar kesehatan sangat merekomendasikan bermain trampolie sebagai olahraga anak adalah adanya unsur fun dari aktifitas fisik ini. Seringkali, anak malas jika diajak untuk berolahraga layaknya berlari atau senam karena dianggap tidak mengasyikkan. Berbeda dengan bermain trampolin yang membuat anak bermain dan melompat-lompat dengan riang gembira sehingga tanpa terasa mereka sudah melakukan aktifitas fisik yang cukup lama.
Beliau menyarankan anak-anak untuk rutin melakukan olahraga dengan trampolin ini setidaknya 30 hingga 60 menit dalam sehari. Namun, Ia hanya merekomendasikan olahraga ini pada anak yang sudah melewati usia enam tahun. Mengapa? Menurut dr. Grace, anak dengan usia tersebut sudah mengalami perkembangan motorik yang baik. Selain itu, pengawasan dari orang tua juga harus dilakukan dengan baik karena anak bisa saja ingin melakukan gerakan-gerakan ekstrim yang bisa saja membuat mereka cedera layaknya gerakan salto ke belakang, apalagi jika anak yang bermain di dalam satu trampoline cukup banyak.

Rabu, 31 Juli 2019

10 Cara Mengatasi Anak yang Suka Berbohong!

Berbohong adalah salah satu sifat yang tidak terpuji. Mirisnya, sebagian anak-anak suka sekali berbohong, baik pada orangtuanya maupun orang lain.

Ya, anak yang suka berbohong menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua untuk mendidik dan mengarahkannya ke arah yang tepat.
Sifat dan kebiasaan ini harus segera diatasi sejak dini agar anak tidak membawa kebiasaan buruk itu hingga dewasa. Karena akan berimbas negatif terhadap masa depannya.
Tapi kalau buah hati anda suka berbohong, jangan panik dan emosi ya. 
Berikut ini adalah 10 tips dan cara yang dapat dilakukan untuk mengarahkan anak yang suka berbohong agar kebiasan tersebut hilang dan anak menjadi pribadi yang lebih baik lagi:
1. Bersikap bijak
Hindari memojokkan anak untuk mengakui kebohongannya dengan cara memaksa anak. Sebaliknya, lakukan pendekatan persuasif dengan lembut dan bersahabat sehingga anak nyaman dan cenderung lebih mudah mengakui kesalahannya.
2. Jangan emosional
Seringkali, orang tua langsung marah saat mengetahui anaknya berbohong dan mengeluarkan kata-kata kasar atau bahkan menghukum anak secara fisik. Tindakan ini hanya akan membuat anak merasa trauma dan akibatnya di lain waktu dia akan tetap berbohong karena merasa dendam terhadap orang tuanya. So, jangan  terbawa emosi ya. Dekati anak dengan lembut agar dia mengungkapkan alasannya.
3. Cari tahu penyebabnya
Salah satu cara mengatasi anak yang suka berbohong adalah menyelidiki dan mencari tahu apa yang membuat anak sampai berbohong. Hal ini penting untuk dilakukan oleh orang tua agar Anda dapat lebih bijaksana menyikapi kesalahan anak.
4. Jelaskan konsep dan efek kebohongan
Berikan penjelasan dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami anak tentang bahaya berbohong. Selain itu, anak juga akan mengerti bahwa berbohong adalah tindakan yang tidak baik bila ia diberikan penjelasan dan contoh akibat dari perbuatan bohongnya bagi dirinya sendiri dan orang lain.
5. Hukuman yang mendidik
Hukuman juga perlu diterapkan saat anak berbuat kesalahan agar anak jera dan berpikir ulang saat lain kali ia hendak melakukan kesalahan serupa. Hindari memberikan hukuman fisik pada anak dalam bentuk apapun. Berilah hukuman yang mendidik seperti melarang anak bermain di luar rumah untuk sementara waktu, memotong uang saku anak atau hal lain yang sifatnya mendidik.
6. Luruskan imajinasinya
Jika anak berbohong karena  daya khayal atau imajinasinya, berikan respon yang positif lalu jelaskan pada anak gambaran yang sebenarnya. Contohnya, saat anak mengatakan ia melihat kuda  terbang di langit. Orang dewasa tentu menganggapnya sebagai khayalan semata. Namun, berilah tanggapan positif ke anak sembari meluruskan hal yang benar sesuai kenyataan.
7. Hargai anak
Saat anak berhasil menunjukkan perilaku jujur dan tidak lagi mengulang kesalahannya berbohong, berikan apreasi pada anak dengan cara yang spontan namun bermakna. Orang tua bisa memberikan pujian dengan kalimat lisan, memeluk anak, mengelus kepalanya, mengangkat jempol dan lain sebagainya. Meskipun kejujuran yang dikatakan oleh anak kadang tidak selalu berupa perbuatan yang benar, namun setidaknya dia sudah berusaha untuk jujur dan mengakui kesalahannya apa adanya. Sepatutnya sebagai orang tua Anda mengapresiasi anak sembari mengarahkan perilakunya ke arah yang lebih baik.
8. Pererat ikatan emosional antara anak dan orang tua
Kedekatan emosional dengan orang tua akan membuat anak merasa aman sehingga ia akan lebih terbuka, karena ia merasa bahwa ia dihargai dan dipercaya oleh orang tuanya. Sebaliknya, bila antara anak dan orang tua tidak memiliki ikatan emosi yang kuat, anak cenderung tumbuh menjadi seorang pemberontak dan sering berbuat hal tercela untuk menarik perhatian orang tuanya.
9. Pembiasaan yang konsisten
Membentuk perilaku anak haruslah dilakukan dengan pembiasaan yang konsisten dan berkelanjutan. Hal ini bertujuan agar anak tidak bingung mana hal yang baik untuk dilakukan dan mana yang tidak baik. Perlu diingat, orang tua harus membekali dengan contoh sehingga anak akan jauh lebih paham. Pastikan anak memahaminya dengan benar.
10. Tanamkan nilai agama
Sebagai manusia yang beriman dan beragama, sudah menjadi tanggung jawab dan kewajiban Anda sebagai orang tua untuk mengajarkan nilai-nilai agama kepada anak sebanyak-banyaknya. Dengan bekal ilmu agama yang cukup, anak akan paham dengan sendirinya bahwa berbohong adalah salah satu perbuatan tercela yang dibenci oleh Tuhan.
Jangan lupa untuk selalu mendampingi anak ya. Perlakukan mereka dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Kenali juga pergaulan mereka di luar rumah. Mengenali dan memahami lingkup pergaulan anak baik di sekolah maupun di rumah akan membantu Anda sebagai orang tua untuk melihat dan menyaring apakah teman-temannya memberikan pengaruh positif pada karakternya atau justru sebaliknya.

Kenali "Bohong Kecil" Sesuai Fase Usia Anak.

Anak-anak itu semakin pintar, semakin pintar pula mereka bisa memanipulasi kita dan ujung-ujungnya jadi berbohong. Hal ini sebenarnya masih ada perdebatan, apakah wajar atau tidak wajar anak-anak berbohong, baik berbohong kecil maupun berbohong besar.

Sebelum mengambil sikap, kenali dulu kebohongan buah hati berdasarkan fase usia.
"Benar, Bu. Bukan aku, kok, yang makan kue untuk nenek!" Ranindra, putri semata wayang Wanda, bersikeras saat sang ibu bertanya. Wanda tahu betul putrinya yang berusia 4 tahun ini mengambil potongan kue yang dibeli untuk mertua. Namun entah kenapa, Ranindra tak kunjung mau mengakui. "Bukan masalah kuenya, sih, Pa. Hanya saja, masih kecil, kok, dia sudah berbohong, ya?" ujar Wanda pada suami. Faktanya sejak kecil memang buah hati mungkin saja melakukan kebohongan-kebohongan kecil yang membuat kita gemas. Pasalnya, kadang kala kebohongan dilakukan untuk alasan yang tak dapat dimengerti. Padahal kita selalu berupaya untuk mengajarkan nilai-nilai kejujuran sejak dini, bukan? Sebelum menilai macam-macam, kenali saja dahulu kebohongan yang biasa dilakukan buah hati sesuai dengan rentang usianya.

Anak Batita
Usia 2 atau 3 tahun memang sangat dini untuk berbohong. Mungkinkah mereka berbohong bila kemampuan bicara pun belum terlalu fasih? Para pakar parenting  mengenali kebohongan anak usia di bawah tiga tahun umumnya menyangkut hal-hal yang sangat sederhana. Salah satu contoh, anak keberatan dan menolak saat Anda hendak mengecek pospak atau celananya karena malas melakukan aktivitas membersihkan diri atau mengganti pakaian. Di usia ini, mereka mulai berpikir untuk bersembunyi saat merusak barang atau mengompol dengan harapan orangtua tak mengetahui apalagi memarahinya. Kadang, tingkah batita ini memang membuat Anda heran. Bisa-bisanya mereka berpikir demikian? Namun memberikan hukuman tentu tak bijak, karena pada dasarnya mereka belum mengerti benar dan salah. Strategi yang diberikan pakar psikiatri anak, Michael Brody, M.D., adalah mengurangi intensitas bertanya. "Alih-alih bertanya apakah ia yang menghabiskan kue, memecahkan vas, atau hal lainnya, pada usia ini lebih baik katakan saja bahwa kuenya habis atau vasnya pecah," ujarnya.

Lalu, ajak buah hati ikut serta saat Anda melakukan solusi. "Jika orangtua membuat tuduhan pada anak, apalagi dengan nada marah, anak justru akan berbohong atau memberikan pembelaan diri," tegas Brody.

Anak Balita 

Sementara usia 3-5 tahun adalah fase saat imajinasi anak mulai kaya dan ia kesulitan memisahkannya dengan realita. Tak sedikit anak di usia ini yang merasa memiliki teman khayalan dan percaya bahwa ada sosok monster atau peri di dalam hidupnya. Maka di usia ini, jangan kaget bila buah hati sering bercerita panjang lebar mengenai suatu kisah yang tak masuk akal. Imajinasi ini bisa murni sebagai salah satu caranya bermain, namun bisa pula dijadikan obsesi yang sangat memengaruhinya. Apa tandanya imajinasi ini mulai mengganggu? Elizabeth Berger, M.D., penulis buku Raising Kids with Characters , menyampaikan indikasi utamanya. "Selama ia masih terlihat senang, tidak menjadi penyendiri alias tetap berhubungan baik dengan orang-orang yang ada di lingkungannya, berarti masih aman-aman saja," terangnya.

Usia Sekolah 
Di usia sekolah dasar, yaitu sekitar 5-10 tahun, alasan di balik kebohongan anak mulai dapat dipahami, meski tetap tak dapat diterima. Di usia ini anak bisa berbohong untuk meminimalkan kekecewaan orangtua atau menghindar dari hukuman yang akan diberikan. Sebagai contoh, ia bisa saja mengatakan tak ada PR dari sekolah karena malas mengerjakan. Saat Anda mengetahui buah hati berbohong dan apa alasannya, kini Anda bisa mempertimbangkan dan mengambil sikap. Apakah ia membutuhkan teguran saja atau bisa diberi hukuman kecil seperti tak boleh menonton TV? Di usia ini pula, jangan kaget apabila anak sudah mengetahui konsep "berbohong untuk kebaikan". Misalnya, ia mengaku telah mengotori meja makan padahal sang adik yang melakukannya. Meski buah hati telah menunjukkan kepekaan sosial dan kepedulian, namun Anda tetap harus memberikan pemahaman.

Praremaja 

Usia 9 tahun ke atas, anak yang tergolong praremaja ini sudah mengembangkan ide-ide mengenai kebenaran dan kebohongan, namun dengan batas yang masih samar. Anak di usia ini mulai kritis mempertanyakan realitas yang tak mereka percayai. Selain itu, wajar pula bila anak mulai sedikit tertutup tentang kehidupannya. Brody mengemukakan, ini bukan pertanda buah hati mulai tak jujur atau telah melakukan kesalahan, melainkan sebagai salah satu tanda tumbuh kembangnya menuju keremajaan. Ketidakjujuran yang dilakukan anak usia ini adalah seputar pekerjaan rumah, nilai ujian, atau kewajiban-kewajiban yang tak dilakukan. Bagaimana menyikapinya? Pertama, coba tunjukkan bahwa Anda tak senang dengan sikapnya yang mulai tak jujur. Kemudian, tanya alasannya melakukan hal tersebut. Jika anak masih membantah sementara Anda yakin ia telah berbohong, jangan langsung memarahinya karena anak bisa bersikeras dengan kebohongannya. Diamkan terlebih dahulu, kemudian cari waktu yang tepat untuk membahasnya.

Namun ingat, mengajarkan nilai kejujuran harus disertai contoh dari orangtua. Bila orangtua menerobos lampu lalu lintas, melakukan kebohongan pada orang lain di depan anak, atau hal lainnya, anak seolah diberi pembenaran bahwa ia pun boleh melakukannya. 


Kenapa Bohong, Nak? 
Berikut beberapa alasan penyebab si kecil berbohong. 
1. Menunjukkan Identitas Dorongan dari lingkungan bisa saja membuat buah hati berbohong untuk diterima di lingkungan tersebut. 
2. Mendapat Perhatian Tak jarang, buah hati yang usianya masih kecil berbohong tentang hal-hal yang mustahil hanya untuk mendapatkan perhatian.
3. Menjaga Perasaan Anak kecil dinilai selalu jujur saat dimintai pendapat. Namun, seiring berjalannya waktu, orangtua sering pula meminta buah hati untuk tak mengatakan suatu hadiah jelek atau tak ia sukai karena bisa membuat yang memberi sedih. Maka, ia pun belajar "berbohong demi kebaikan" untuk menjaga perasaan orang lain. 

4. Menghindari Masalah atau ­Hukuman Ini alasan yang paling sering dilakukan. Pada sebagian anak, saat ia berbuat salah secara sengaja atau tidak, ia memilih berbohong agar tak dimarahi atau dihukum.

Minggu, 28 Juli 2019

7 Tips Memilih Kegiatan Ekstrakurikuler untuk Anak

Kecerdasan majemuk membuat setiap anak menjadi unik.
Kadang, sekolah saja tidak akan cukup untuk memperkuat bakat dan meningkatkan kecerdasan alami mereka. Mereka perlu pelajaran ekstrakulikuler yang sesuai dengan minat mereka. 
Menentukan kegiatan ekstrakurikuler untuk anak ini juga gampang-gampang susah. Banyak pilihan tersedia tapi belum tentu semua tepat dan nyaman bagi Si Anak.
Tujuh panduan di bawah ini mungkin bisa menjadi pertimbangan Mama dan Papa, agar lebih mudah menentukan pilihan.

1. Hindari kegiatan akademis

Sampai saat ini banyak orangtua beranggapan bahwa les privat atau bimbingan belajar termasuk dalam kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan tambahan di luar sekolah ini dianggap sangat edukatif bagi anak. Mungkin sih, secara teori memang benar edukatif. Tapi coba pertimbangkan dampak psikologisnya.
Sebaiknya pilih kegiatan yang jauh dari mata pelajaran di sekolah. Kalaupun tertarik dengan kursus berhitung dan bahasa asing, ambil 1-2 hari saja dalam seminggu.
Sisanya, carikan anak kegiatan yang seru dan menyenangkan.

2. Sedikit teori banyak praktek

Kegiatan ekstrakurikuler yang baik untuk anak sebaiknya minim teori dan didominasi praktek.
Selama belajar di kelas, ia lebih banyak berperan pasif. Duduk rapi mendengarkan penjelasan dan menerima perintah.
Tidak bisa dipungkiri bahwa inilah yang masih terjadi di banyak sekolah, metode belajar yang satu arah.
Seorang anak juga butuh ruang untuk mengekspresikan dirinya. Menjadi pihak yang aktif, melakukan sesuatu atas kehendak dan kreativitasnya.
Jadi pilihkanlah kegiatan yang lebih banyak praktek. Sekaligus untuk menyalurkan energinya dengan cara positif dan membuang penat.

3. Utamakan olahraga dan kesenian

Untuk awal-awal, prioritaskan kegiatan yang berbau kesenian atau olahraga. Dua bidang ini cukup menyenangkan dan memberi banyak ruang ekspresi.
Rata-rata orang dewasa memiliki hobi di bidang olahraga atau kesenian. Jadi semakin dini Mama mengenalkannya pada anak, ia bisa menentukan minat untuk ke depannya.
Jangan hanya mengacu pada satu jenis kegiatan saja, cobalah dua sekaligus. Misalkan renang dan bela diri, atau sepak bola anak untuk laki-laki.
Semakin banyak pilihan kegiatan yang ia coba, referensi minatnya akan bertambah.

4. Sesuaikan dengan minatnya

Nah, untuk Mama yang sudah berhasil mengenali minat Si Anak, mengarahkannya pada kegiatan yang sesuai adalah pilihan paling tepat.
Cara anak menunjukkan dan memahami minatnya memang tidak sama. Ada yang sejak kecil sudah nampak, ada yang sampai remaja atau dewasa baru terlihat.
Beruntung bagi anak Mama yang sudah bisa mengidentifikasi minatnya. Akan lebih mudah membantunya menyalurkan minat pada kegiatan yang positif.

5. Berlakukan sistem percobaan

Setelah memutuskan kegiatan untuk anak, berlakukanlah sistem percobaan.
Ambil rentang waktu sekitar 1-2 bulan untuk mengamati bagaimana dampak kegiatan tersebut pada perkembangan otak dan psikologisnya. Jika Si Anak ternyata tidak nyaman, jangan dipaksa meneruskan dan carikan kegiatan lain.
Coba kenalkan pada kegiatan lain sampai ia merasa ada satu yang cocok.
Membantu anak menemukan minat dan bakatnya sejak dini sangat penting agar kelak, mereka memiliki sesuatu yang membuat mereka bangga dan aktif. 


6. Keuntungan mengikuti kegiatan tersebut

Sebagai orangtua, kita ingin anak-anak menggunakan waktu mereka dengan bijak, dan sebaiknya mereka terlibat dalam kegiatan yang memberikan keuntungan jangka panjang.
Jika kegiatan tersebut justru memakan banyak waktu dan uang, sebaiknya Mama dan Papa mempertimbangkan kembali apakah ini memberikan keuntungan yang baik bagi Si Anak. 

7. Pertimbangkan biayanya!

Sebaiknya orangtua perlu bijak memilih kegiatan ekstrakurikuler anak karena ini akan mempengaruhi anggaran keluarga. Sesuaikan pilihan kegiatan dengan keadaan keuangan keluarga. 
Jika Mama dan Papa merasa kalau kegiatan ini benar-benar memberikan manfaat dan keuntungan untuk anak, namun membutuhkan biaya yang tak murah, ini saatnya Mama dan Papa melakukan pengorbanan tambahan untuk memberikan yang terbaik untuk Si Anak.
Di sini, komunikasi menjadi kunci utama yang harus dilakukan oleh orangtua dan anak. Tanyakan, apakah Si Anak akan bersungguh-sungguh menjalani kegiatan ini dan apakah ia tidak akan lupa dengan tugasnya sebagai pelajar. Kalau ia serius, maka Mama bisa meyakinkan diri untuk membiayainya. 
Yuk, dukung tumbuh kembang anak sampai maksimal!




Keceriaan anak-anak Bilik Dolan di Taman Kota

Halo semua.... Berjumpa kembali dengan blog Bilik Dolan... Setelah sempat ditutup beberapa lama untuk direnovasi, kembali Taman Kota 1 di...